Lulus Sarjana Dengan Predikat Kurang Percaya Diri

Ketika lulus dari sebuah perguruan tinggi dengan gelar sarjana, mestinya kita sudah siap untuk terjun ke dunia kerja atau pun kedunia bisnis, tapi pada kenyataanya tidak sesuai dengan yang kita harapkan, setelah lulus tidak menjadi seorang sarjana yang harus terus berkarya  atau pun menjadi entrepreneur yang siap berperang ,namun harus kebingungan harus kerja dimana dan mencari pelunga usaha apa ?. terus apa yang terjadi kok predikat sarjana bingung/kurang percaya diri dengan potensi diri ini melekat kepada kebanyakan lulusan-lulusan perguruan tinggi di negeri ini. dari artikelnya Romisatrio wahono tentang Dapat Apa Sih di Universitas? disitu di jelaskan secara detail apa yang didapatkan ketika kuliah di universitas.

saya mengutip pertanyaan mahasiswa dalam artikel tersebut yang berbunyi ;

“Saya mahasiswi semester 4 jurusan Teknik Informatika di sebuah Univesitas di Semarang. Sudah hampir 2 tahun saya kuliah, cuman saya kadang merasa nggak tambah pinter, kalau tambah sibuk sih iya karena tugas dari dosen yang kayak tsunami🙂 Pingin dengar pendapat mas Romi yang kabarnya waktu kuliah IPKnya 4.0 terus. Sebenarnya di kampus itu apa yang kita dapat sih mas?” (Novi – Tembalang, Semarang).”

Emm pertanyaan-pertanyaan seperti ini sebenarnya ga jauh beda dengan pertanyaan beribu-ribu mahasiswa ditanah air , salah satunya dari adek2 saya di komunitas e-learning, mereka merasa kuliah di informatika selama 1 tahun ga tahu secara jelas arah kemana arahnya”

Dalam tulisan romisatriowahono ada beberapa faktor kunci keberhasilan suatu mahasiswa, sehingga bisa lulus dengan harga mahal dan lebih percaya diri  bukan lulus dengan terpaksa sehingga predikat sarjana bingung bisa melekat pada dirinya : diantaranya adalah :Knowledge, Skill, Technique, Attitude, Experience

Jika kita ingin lulus dengan predikat memuaskan seharusnya kita harus bisa mempraktekan ke lima faktor tersebut” di situ di jelaskan bahwa :

Knowledge (Pengetahuan): Kita jadi tahu bahwa di motor ada lampu, stang kemudi, rem, gas, spion, bel. Kita juga tahu cara bagian motor itu bekerja termasuk gimana njalaninya. Kalau kita belajar pemrograman, ya kita ngerti lah apa itu fungsi, apa itu variable, juga apa itu object, apa itu method, apa itu attribute. Kita juga diajarin banyak lagi pengetahuan, sistem basis data, rekayasa perangkat lunak, pemrograman berorientasi objek, software project management, dsb. Pokoknya yang selama ini bikin pusing itulah knowledge. Lho kenapa bikin pusing? Soalnya kampus kadang nggak imbang ngasih knowledge dan keterampilan, alias besar teori daripada praktek.

Skill (Keterampilan): Kita ngerti cara ngidupin motor. Supaya motor maju harus masukan gigi ke satu dan tekan gas. Kecepatan mulai tinggi masukin ke gigi dua, kalau ada halangan di depan injek rem. Kalau mau belok tekan lampu sen. Di kampus, tugas mandiri, misalnya disuruh buat kalkulator atau program deteksi bilangan prima di mata kuliah OOP itu semua untuk ngelatih keterampilan. Semakin banyak tugas, harusnya makin terampil, cuman kalau nyontek, ya makin bego aja mahasiswa🙂 Usahakan untuk mengerjakan sendiri tugas, karena tujuannya untuk melatih keterampilan kita, sayang masa depan kita kalau kita sering nyontek dalam tugas mandiri. Nah, IPK itu hanya untuk mengukur mahasiswa di level knowledge dan skill. Jadi peran IPK sebenarnya hanya sampai di sini😉

Technique (Teknik): Ternyata keterampilan nggak cukup, karena kita perlu menguasai teknik misalnya supaya motor kecepatan tinggi nggak ngepot. Kita ngeremnya harus dari jauh dan pakai rem tangan plus rem kaki bareng. Mau belok juga harus ambil ancang-ancang, kecepatan diturunkan, baru belok. Nah kalau di kampus, karena mata kuliah banyak dan di setiap mata kuliah ada tugas coding, keterampilan bahasa Java kita jadi meningkat. Kita bisa bahasa Java kromo inggil, ngoko, eh bukan maksud saya kita jadi punya banyak teknik supaya program kita lebih rapi, program kita lebih cepat jadi, punyak teknik untuk bisa reuse code, coding jalan terus walaupun pakai notepad atau emacs, dsb.

Attitude (Sikap): Wah ternyata pengetahuan, keterampilan, teknik saja nggak cukup membuat kita bisa survive di dunia. Kita perlu sikap yang baik dalam mengendarai motor. Lampu lalu lintas itu kalau merah berhenti, jangan nyelonong saja. Kalau nyalip orang juga jangan dari kiri. Hormati pengendara lain, dahulukan perempuan atau yang membawa anak-anak. Jangan asal ngebut di kampung orang, kalau nggak mau benjol tuh kepala. Sikap ini kalau di kampus, ya kalau jadi programmer jangan terus buat virus, atau ngerusak sistem orang, atau malah maling code orang🙂 Nah ini semua adalah sikap. Kampus yang hanya mengajari orang untuk punya pengetahuan, teknik dan keterampilan tanpa memperhatikan attitude (sikap) artinya mendidik orang pinter tapi sesat di jalan.

Experience (Pengalaman): Pengalaman ini seperti jam terbang. Hanya bisa kita dapatkan kalau kita pernah mengalami kejadian dan pengalaman. Contohnya, karena sering bolak-balik ke Puncak untuk jualan pisang😉 , kita jadi ngerti banget mainin gigi supaya mesin nggak rontok meskipun naik gunung terjal nan macet. Terus juga karena rumah sering kebanjiran, kita ngerti banget lah kira-kira banjir berapa senti yang bikin motor kita nggak bisa jalan. Gimana kalau jatuh, sebaiknya posisi tubuh seperti apa yang membuat luka tidak parah. Semua kita dapatkan dari pengalaman. Pengalaman itu mahal, ya pasti karena kadang ada harga yang harus dibayar. Terus kalau di Kampus, pengalaman kan nggak ada? Hmm pengalaman itu tetap ada, kita KKN, magang, kerja paruh waktu, ngerjain TA itu adalah supaya punya pengalaman. Banyak buat project (software) yang bisa dijual, mulai belajar jualan, latih jiwa enterpreneurship adalah keharusan untuk bekal hidup di dunia IT nan ganas dan kejam.

Dalam artikel tersebut di jelaskan bagaiman sikap dan prilaku kita agar suatu saat nanti kita bisa percaya diri setelah lulus dari universitas kebanggaan kita” selain faktor-faktor diatas faktor nasiblah yang bisa menentukan kita berhasil atau tidak dan juga semangat untuk terus belajar dan belajar, kadang orang pintar kalau tidak biasa diasah akan tumpul juga, tapi orang yang terus belajar dan terus diasah suautu saat nanti dia bisa menjadi pedang yang tajam.

salam dari

krida prasetya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: