Jejaring, Modal Utama Bisnisnya

Oleh : Henni T. SoelaemanBermodalkan pengalaman dan jejaringnya sewaktu menjadi profesional, ia sukses membangun bisnis transportasi, dan kini berekspansi ke furnitur. Inilah salah satu sosok pebisnis Medan yang sedang bersinar.

Pengalaman adalah guru terbaik. Dari titik inilah Khairul Mahalli bermetamorfosis. Bekerja di perusahaan tak semata dilakoni Mahalli dengan menjalani karier profesional. Ia juga berusaha menyerap ilmu-ilmu manajemen yang dijalankan perusahaan. Termasuk, strategi dan trik-trik bisnisnya. Membangun jejaring (networking) dengan berbagai mitra bisnis pun tak luput dari agenda aktivitasnya. Selama melayari karier, ia mengaku benar-benar berusaha menyerap ilmu dari berbagai pihak. “Buat saya, bekerja juga adalah sebuah pembelajaran, seperti sekolah,” katanya.

Setelah lebih dari sedasawarsa mengenggam label karyawan, ia lantas memulai babak baru. Tahun 2000, ia memberanikan diri masuk gelanggang bisnis sebagai wirausaha. “Saya punya pengalaman yang cukup, saya pikir, mengapa saya tidak memulai untuk mandiri,” ungkap Mahalli yang genap berusia 43 tahun pada 3 September lalu. Ia memilih mengibarkan bendera sendiri karena melihat dinamika seorang wirausaha sangat berbeda dari seorang profesional. “Lebih dinamis dan lebih menantang,” katanya. Menurut dia, setiap hari persoalan yang dihadapi sangat berbeda. Begitu juga ritme kerja dan tantangannya. “Bagaimana menghadapi customer, bernegosiasi, me-manage banyak karyawan, tentu memberikan dinamika baru dan tidak monoton karena persoalan yang dihadapi setiap hari berbeda.”

Tentu, tak sebatas itu alasan Mahalli menerjuni ladang bisnis. Intuisi bisnis sejatinya mulai mengendap dalam jiwa Mahalli muda. Saat duduk di bangku SMA, ia mulai berdagang kecil-kecilan. “Apa saja yang bisa dijual,” ujarnya. Sewaktu SMA ia juga menjadi guru bahasa Inggris di berbagai tempat kursus. “Sekalian memperlancar bahasa Inggris,” ujarnya lagi. Saat duduk di bangku SMA pula, ia mengikuti program Pertukaran Pelajar ke Amerika Serikat. Dan, pada 1985 mengikuti program Pertukaran Pemuda ke Kanada.

Kesempatan tersebut tak hanya dimanfaatkan Mahalli untuk menimba ilmu. Ia juga mulai menebarkan jejaring. “Saya benar-benar memanfaatkan kesempatan itu untuk membangun jejaring,” katanya. Jejaring dengan pihak luar inilah yang kemudian terus dibangunnya ketika ia bekerja. Dan, saat ia memulai usaha, jejaring yang dibangunnya itu diakuinya mempermulus roda bisnis yang ia gelindingkan. “Pengalaman dan networking, itu modal utama saya,” ujarnya menegaskan. Karena itu, ia membangun bisnis transportasi dengan fokus pada freight forwarding dan logistics, ladang bisnis yang selama ini digelutinya selama menjalani karier di perusahaan yang berbasis di Eropa dan Cina tersebut.

Lewat PT Sahara Tranindo, Mahalli menawarkan berbagai jasa transportasi, mulai dari domestic sea & air freight, export/import sea & air freight, consolidation cargo, custome brokerage/clearance, domestic & international movers, sampai warehousing. “Modalnya sangat relatif, sekarang saja untuk membuat PT, undang-undangnya harus ada dana setor Rp 250 juta, belum untuk kantor dan lainnya,” katanya berkilah saat disinggung investasi awal membangun Sahara. Yang pasti, dikatakannya, ketika itu ia hanya memiliki tiga karyawan. “Saya ikut terjun langsung,” ujar Mahalli yang kini memayungi 60-an karyawan di luar pegawai bongkar-muat di pelabuhan. “Kalau sedang bongkar-muat kapal, ya bisa mempekerjakan lebih dari 40-an buruh.”

Sejak awal, Sahara Tranindo membidik pasar internasional. Maklum, jejaring luar negeri sudah berada dalam genggaman. Tak mengherankan, Sahara Tranindo bisa langsung mengepakkan sayapnya ke berbagai belahan dunia. “Asia paling dominan,” kata Mahalli. Selain transportasi logistik, Sahara bermain di bisnis trading pula. “Kami menjalin kerja sama dengan pihak Jerman untuk komponen lampu halogen,” ujarnya. Pihaknya juga bekerja sama dengan Cina untuk komoditas fosil kayu. Mahalli pun dipercaya salah satu lembaga swadaya masyarakat luar negeri untuk mendistribusikan berbagai barang kebutuhan, khususnya bantuan ke Aceh dan Nias.

Seiring dengan perkembangan Sahara Tranindo, rupanya Mahalli tergelitik menggarap bisnis lain. Ia merambah bidang furnitur dan aksesori dengan mendirikan Sahara Living. Tak tanggung-tanggung, sasaran bidiknya adalah kelas menengah-atas, apartemen dan hotel. Sahara Living yang juga memiliki bengkel kerja di Kalasan, Jawa Tengah, ini dikendalikan saudaranya. Produk furnitur dan aksesori Sahara Living juga banyak mengisi rumah-rumah di Medan, Pekanbaru, Banda Aceh dan Padang. “Ada orang bangun rumah, kami mengerjakan interiornya sekaligus mengisi furniturnya,” ujarnya. Produk bengkel kerja di Kalasan banyak mengisi berbagai hotel dan apartemen di kota-kota di Jawa, termasuk Jakarta. Sahara Living juga mengekspor produk ke Singapura dan Malaysia. Diakui Mahalli, dengan rajin mengikuti berbagai pameran baik di dalam maupun luar negeri, Sahara Living bisa diterima pasar internasional. Selain itu, citarasa dan desain produknya, menurut dia, tidak neko-neko. Yakni: simpel, minimalis dan berkualitas.

Menurut Mahalli, untuk desain Sahara Living, istrinya memiliki andil besar. Dalam menjalankan roda bisnis Grup Sahara, sang istri, Poppy Anggraeni, ikut terlibat. “Ia sangat mengerti taste orang luar,” katanya. Pihaknya senantiasa mempelajari kebutuhan dan selera pasar asing lewat berbagai media sehingga produknya bisa memenuhi selera mereka. “Ekspatriat kerap datang ke showroom kami, beli. Kami bantu pengurusan dokumennya dan mengirim barangnya,” katanya lagi.

Keterlibatan sang istri tidak sebatas dalam pengelolaan Sahara Living. Ekspansi bisnis yang dilakukan adalah buah dari usaha memadukan potensinya dengan potensi istrinya. Dalam pandangannya, istrinya yang juga alumni program Pertukaran Pemuda ke Kanada memiliki intuisi bisnis yang tajam. Awalnya, istrinya terjun di bisnis kecantikan dengan mendirikan salon khusus perempuan dan katering. Seiring dengan berjalannya waktu, bisnis sang istri terus berkembang, kemudian masuk dalam portofolio bisnis Grup Sahara. “Pembagian tugasnya, saya bagian eksternal, dan istri saya mengurusi internal,” Mahalli menjelaskan.

Bisnis lain yang dirambah ayah Mohammad Imam Akbar (kelas 2 SMA) dan Zahra Khaeralita (2 SMP) adalah butik, galeri, serta restoran lewat Kedai Tempo Doeloe dan Sahara Satay House yang baru 7 bulan lalu dibesut. Untuk Kedai Tempo Doeloe, sudah ada beberapa pihak yang menawarkan kerja sama lewat pola waralaba. “Sedang saya pelajari dulu. Saya tidak mau terburu-buru,” katanya. Bahkan, mitranya dari Malaysia telah mengulurkan tangan untuk mendirikan resto dengan atmosfer tradisional Melayu itu di Kuala Lumpur.

Ia mengaku sangat hati-hati melakukan ekspansi bisnis. “Saya pelajari dulu detailnya, sedang dalam proses sambil terus dievaluasi,” tutur Mahalli yang tiga kali seminggu mengayunkan raket tenis. Yang pasti, rencana pengembangan bisnis telah diagendakan. “Terus mencari peluang-peluang baru yang bisa dikembangkan dan mencari potensi SDM yang bisa berkolaborasi,” tuturnya. Ia tidak tertarik menjadikan Sahara sebagai perusahaan besar. “Buat saya, yang terpenting: perusahaan solid dan karyawannya sejahtera,” katanya tandas.

Di mata Mahalli, menyejahterakan karyawan adalah kunci membangun keberhasilan. “Kalau perusahaan sejahtera, karyawan juga ikut sejahtera,” ucapnya. Ia menjelaskan, perusahaannya dibangun dari nol. “Kami membangun dengan modal sendiri tanpa support dari pihak luar,” katanya. Pergerakan Grup Sahara berawal dari usaha kecil-menengah (UKM). “Sekarang juga masih kecil, yang penting solid,” katanya lagi. Kontribusi terbesar masih disumbang oleh bisnis transportasinya (70%) dan sisanya dari unit-unit usaha lain.

Dengan mengedepankan gaya manajemen kekeluargaan, ia berusaha menerapkan standard operating procedure (SOP). “Semua mekanisme sudah pakai SOP, mulai dari security, cuma belum punya ISO. Kami sedang proses ke arah sana, ya pelan-pelanlah,” tutur Mahalli yang aktif di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatera Utara sebagai Ketua Hubungan Internasional/Kemitraan/Pembinaan UKM. Menurutnya, manajemen terbuka berusaha ia terapkan di setiap unit usahanya. Dengan begitu, karyawan juga bisa tahu perkembangan perusahaan. Sayang, ia termasuk pengusaha yang enggan membeberkan angka-angka. “Lumayanlah, yang pasti usaha bisa berjalan, perusahaan solid dan karyawan sejahtera,” ujarnya ketika ditanya kinerja finansial Grup Sahara.

Di mata Direktur Eksekutif Kadin Sum-Ut, Hendra Utama, Grup Sahara termasuk perusahaan yang tengah berkembang di Medan. “Bisnisnya sudah merambah ke berbagai sektor,” kata Hendra. Menurut pria berusia 35 tahun itu, Sahara yang usaha awalnya transportasi logistik ini mulai dilirik mitra-mitra dari luar negeri. Pasalnya, dikatakan Hendra, sang pemilik memiliki jejaring yang bagus. Mahalli juga dinilainya pandai mencium peluang bisnis. Terbukti, Sahara suskes merambah bidang lain, seperti furnitur dan aksesori. “Human relationship-nya juga bagus, baik terhadap sesama pengusaha, pejabat, maupun kalangan assosiasi,” ungkap pebisnis trading itu. “Ia juga aktif di berbagai organisasi sehingga pergaulan dan networking-nya tambah luas.”

Mahalli mengakui, dirinya memang tak bisa diam. Keterlibatannya di berbagai organisasi selain bertujuan memperluas jaringan, juga untuk menambah wawasan. Guna mengetahui tren terbaru yang berkaitan dengan bisnisnya, ia kerap mengikuti berbagai forum, baik tingkat lokal maupun regional.

(swa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: