Sebab-sebab Terjadinya Kesyirikan

Mengetahui sebab-sebab terjadinya kesyirikan adalah perkara yang sangat penting dalam rangka menghindarkan diri dengan sejauh-jauhnya darinya, sebab kesyirikan adalah dosa yang terbesar, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan bahwasanya Dia tidak akan mengampuninya bila dia tidak bertaubat. Hal ini mewajibkan bagi seorang hamba untuk berhati-hati dan sangat takut kepada-Nya, dan membawanya untuk mengetahui dan menjauhinya,karena sesunguhnya dia (kesyirikan) adalah sejelek-jelek perkara dan kezholiman yang paling besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezholiman yang paling besar”. (QS. Luqman : 22).

Sebab-sebab kesyirikan sangatlah banyak , dan yang akan disebutkan adalah pokok-pokoknya yang mana dari pokok-pokok inilah kemudian sebab-sebab itu bercabang-cabang. Pokok-pokok itu antara lain

1. Berlebih-lebihan dalam memuji :

· Berlebih lebihan dalam memuji Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.

Padahal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam telah mengingatkan dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim dari hadits ‘Umar radhiyallahu ‘anhu :

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوْا عَبْدُ الله وَرَسُوْلُهُ

“Janganlah kalian Ithro` kepadaku sebagaimana orang-orang Nashoro Ithro` terhadap ‘Isa bin Maryam, sesungguhnya saya hanyalah seorang hambaNya. Maka katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya”.

Ithro`adalah melampaui batas dalam memuji. Jadi maksud hadits di atas : “Janganlah kalian memujiku dengan melampaui batas sebagaimana Nashoro telah berlebih-lebihan dalam memuji ‘Isa bin Maryam sampai mereka mengangkatnya sebagai Ilah yang patut disembah, tapi sifatilah saya sebagai hamba-Nya dan Rasul-Nya sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati saya dalam Al Qur`an :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya” (QS. Al Kahfi : 1).

Akan tetapi orang-orang musyrikin dari dahulu sampai sekarang tidak mau kecuali menyelisihi perintah beliau dan melanggar larangannya. Mereka mengagungkan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dengan berlebihan dan melakukan hal-hal yang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam telah larang dan peringatkan umatnya dari hal tersebut yaitu berlebihan dalam mengagungkan beliau. Mereka menyerupai orang-orang Nashoro yang berlebihan dalam memuji nabinya. Di antara bentuk kesyirikan dari jenis ini adalah perkataan Al Bushiry berupa syair di dalam Al Burdah, dia berkata :

يَا أَكْرَمَ الْخَلْقِ مَا لِيْ مَنْ أَلُوْذُ بِهِ سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ الْعُمَمِ

“ Wahai Makhluq yang paling mulia, kepada siapa saya memohon perlindungan, kecuali kepadamu jika terjadi musibah yang besar”

Dan perkataannya yang lain :

فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمُ الْلَوْحِ وَالْقَلَمِ

“Sesungguhnya dari kemulyaanmu lahir dunia dan pasangannya (akhirat) dan termasuk dari ilmumu ilmu Lauh Mahfudz dan Al-Qalam”

Bait-bait sya’ir seperti ini mengandung doa, permintaan dan perlindungan kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Dan juga berisi permintaan untuk dihilangkan darinya kesempitan hidup dan kesengsaraan serta kerusakan kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan melupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini bisa terjadi karena syaitan menghias-hiasi pada mereka. Syaitan menampakkan kepada mereka bahwa ghuluw (berlebih-lebihan) dalam memuji Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam yang walaupun itu merupakan syirik akbar adalah dalam rangka mencintai dan memujinya.Dia juga menampakkan bahwa berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam lalu tidak berlebihan dalam memujinya adalah merupakan perbuatan membenci beliau shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, mengurangi haknya, enggan untuk bersholawat dan tidak memuliakan beliau shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Allahu Musta’an”.

· Berlebih-lebihan dalam memuji orang-orang sholeh.

Jika berlebih-lebihan dalam memuji Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam saja terlarang, maka berlebih-lebihan kepada selain beliau seperti orang-orang sholeh adalah jelas lebih terlarang lagi. Dan hal inilah yang merupakan penyebab kesyirikan pertama pada umat manusia, yaitu pada umat Nabi Nuh ‘alahis salam sebagaimana disebutkan dalam Al Qur`an dalam surah Nuh ayat 23 :

وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa`, yaghuts, ya`uq dan nasr”.

Imam Bukhory mengeluarkan dalam Shohihnya (8/667) tentang tafsir ayat ini dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata:

ثُمَّ صَارَتْ الأَوْثَانُ الَّتِي كَانَتْ فِي قَوْمِ نُوْحٍ فِي العَرَبِ بَعْدُ. أَمَّا وَدُّ كَانَتْ لِكَلْبِ بِدَوْمَةِ الجَنْدَلِ, وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ, وَأَمَّا يَغُوْثُ فَكَانَتْ لِمُرَادِ ثُمَّ لِبَنِي غَطِيْفِ بِالجَوْفِ ثُمَّ سَبَأَ, وَأَمَّا يَعُوْقُ فَكَانَتْ لِهَمْدَانِ وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرِ لآِلِ ذِي الكَلاَعِ أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِيْنَ مِنْ قَوْمِ نُوْحٍ فَلَمَّا هَلَكُوْا أَوْحَى الشَيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنِ انْصَبُوْا إِلَى مَجَالِسِهِمْ الَّتِي كَانُوْا يَجْلِسُوْنَ أَنْصَابًا وَسَمُّوْهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوْا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَى إِذَا هَلَكَ أُوْلَئِكَ وَتَنْسَخُ العِلْمُ عُبِدَتْ

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : “Kemudian jadilah patung-patung yang ada pada kaumnya Nabi Nuh ‘alahis salam disembah di Jazirah Arab setelahnya. Adapun Wadd adalah patung kepunyaan Kalb di Daumatul Jundal. Adapun Suwa` adalah patung kepunyaan Hudzail. Adapun Yaguts adalah patung kepunyaan Murodi yang kemudian untuk Bany Ghotif di daerah Juf kemudian Saba`. Adapun Ya’uq adalah patung kepunyaan Hamdan. Adapun Nasr adalah patung kepunyaan Himyar khususnya keluarga Dzilkila’. (Kelima nama ini) adalah nama orang-orang shaleh dari kaumnya Nuh ‘alahis salam. Maka tatkala mereka (orang-orang shaleh) itu wafat, setan mempengaruhi kaumnya Nuh agar membuat patung-patung pada majelis-majelis mereka yang mereka biasa duduk padanya (dalam rangka untuk mengingat mereka), dan (setan juga mempengaruhi mereka) agar mereka menamakan patung-patung terrsebut dengan nama-nama orang shaleh tersebut. Maka merekapun (kaum Nuh) melakukannya. Dan ketika itu mereka (patung-patung itu) belum disembah. Akan tetapi tatkala orang-orang yang membuat patung tersebut telah meninggal dan ‘ilmu agama telah hilang, maka patung-patung itupun disembah”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini).

Yang dimaksud dengan berlebih-lebihan terhadap orang-orang shaleh adalah mengangkat mereka pada kedudukan yang tidak ada yang boleh mendudukinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti istighotsah tatkala terkena kesusahan atau tatkala ditimpa bencana, tawaf di kuburan mereka, tabarruk (mencari berkah) dari barang-barang peninggalan mereka, menyembelih di kuburan-kuburan mereka dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada mereka, meminta pertolongan padahal mereka telah meninggal, dan lain-lain.

Dan telah terjadi pula pada ummat ini seperti apa yang terjadi pada umatnya Nuh ‘alahis salam tatkala syaitan menampakkan kepada kebanyakan orang yang bahwa ghuluw (berlebih-lebihan) dan bid’ah-bid’ah adalah pengagungan terhadap orang-orang yang shaleh dan bukti kecintaan kepada mereka. Kemudian syaitan mempengaruhi mereka agar membangun kuburan-kuburan orang-orang shaleh itu, i’tikaf di situ dan menganggap do`a di tempat itu diterima . Kemudian meningkat lagi ke bentuk keharaman yang lebih tinggi bahkan sampai kepada kesyirikan, seperti berdo`a dan bertawassul kepada mereka. Kemudian berpindah lagi kepada tingkatan yang lebih tinggi, yaitu mengajak manusia untuk beribadah kepada kuburan-kuburan tersebut dalam bentuk menjadikan hari-hari tertentu sebagai hari peringatan untuk mengunjungi kuburan-kuburan tersebut dan melaksanakan ibadah-ibadah tertentu padanya. Kalau semua hal di atas telah tetap dan mendarah daging, maka berpindah lagi kepada yang lebih jelek yaitu keyakinan bahwasanya barang siapa yang melarang perbuatan-perbuatan seperti itu, maka sesunguhnya dia adalah orang yang merendahkan derajat para wali serta membencinya. Mereka meyakini bahwa orang yang melarang perbuatan mereka adalah orang yang tidak memiliki penghormatan, pemuliaan dan pengakuan terhadap kedudukan para wali tersebut. Dan keyakinan ini telah menghujam kuat di dalam hati orang-orang awam yang bodoh, bahkan orang-orang yang dianggap mempunyai ilmu agama. Sehingga mereka memusuhi ahli tauhid dan menggelarinya dengan gelar-gelar yang buruk yang menyebabkan manusia lari dari ahli tauhid tersebut. Mereka memusuhi ahli tauhid dengan mengatasnamakan kecintaan dan pengagungan kepada orang-orang shaleh, padahal mereka itu berdusta karena mencintai orang-orang shaleh hakikatnya adalah sejalan dan sesuai dengan Al-Kitab dan Sunnah menurut pemahaman para Salaf Ash-Sholeh. Adapun caranya adalah dengan mengetahui keutamaan-keutamaan mereka dan mencontohnya dalam amalan-amalan yang sholeh tanpa meremehkan atau bersikap berlebih-lebihan terhadap mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 10 :

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.

bersambung …….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: