Raja Nanas Dunia

PT Great Giant Pineapple memilih bermain di private label, agar tak bertarung frontal dengan raksasa dunia semacam Del Monte dan Dole. Dengan jurus ini, produsen nanas yang bermarkas di Lampung Tengah ini pun menjadi pemain nomor satu di dunia.

Tidak salah produsen nanas kalengan ini memilih nama PT Great Giant Pineapple (GGP). Perusahaan yang memiliki perkebunan di Terbanggi Besar 77, Lampung Tengah ini sejak tahun 2004 sampai sekarang tercatat sebagai tiga besar produsen nanas kalengan di dunia. Bahkan saat ini, GGP merupakan produsen nanas kalengan private label terbesar di dunia dengan pangsa pasar 17%. Merambah pasar ekspor sejak 1984, sampai saat ini mayoritas produk GGP diekspor ke Eropa, Amerika Serikat (35%), serta ke Jepang dan negara lainnya (5%). Tahun lalu, nilai ekspor GGP mencapai US$ 107.135.529. Sekarang, GGP sudah hadir di 50 negara.

Selain itu, GGP juga merupakan produsen yang daerah penanamannya terbesar di dunia. “Pesaing kami seperti Del Monte memang mempunyai lahan yang lebih luas, tapi tersebar dalam dua-tiga daerah perkebunan,” ungkap Lucy Willar, Manajer Pemasaran GGP. Produsen nanas kalengan yang berkantor pusat di Plaza Chase Lantai 20, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta ini memiliki perkebunan nanas seluas 80 ribu hektare yang berada dalam satu areal perkebunan.

Menurut Lucy, dari sejak berdiri, produksi dan sistem produksi GGP terus-menerus digenjot ke arah yang lebih baik. Ketika awal berdiri perusahaan ini hanya memiliki areal perkebunan nanas seluas 15 ribu ha minus lini produksi. Tahun 1984 kami mulai berproduksi dengan empat lini produksi, dan ketika itu kebun kami sudah meluas jadi 35 ribu ha, ujarnya. Pada akhir tahun yang yang sama, GGP mengapalkan produknya ke luar negeri untuk pertama kalinya. “Ketika itu Jerman yang menjadi target pasar kami,” kata Lucy.

Tahun 1986, sistem produksi diperbaiki lagi dengan menambah satu lini pemrosesan, dan satu evaporator untuk membuat konsentrat jus nanas. “Untuk konsentratnya sebagai salah satu waste yang akan kami tampung”, Lucy menjelaskan. Selanjutnya tahun 1992 sampai 1997 GGP kembali menambah luas perkebunan (plantation), lini pemrosesan dan evaporator. hJadi semua penambahan itu terjadi dalam 15 tahun,h lanjutnya.

Diungkapkan Lucy, keunggulan GGP terletak pada teknologi dan ketatnya prosedur proses produksi yang dijalankan. “Kekuatan pertama kami terdapat dalam hal irigasi,” kata Lucy seraya menjelaskan, GGP merupakan perkebunan pertama yang diirigasi. “Kami punya sprinkle untuk mencegah kekeringan saat kemarau,” ujarnya sambil menunjukkan slide komputer yang bergambar sebuah traktor besar sedang menyemprotkan air di areal perkebunan nanas melalui pipa panjang di sisi kiri dan kanannya. Karena faktor inilah GGP bisa memiliki produk yang konsisten mutunya, dan bisa terus mengurangi dampak kekeringan di musim kemarau bagi perkebunan nanasnya.

Keunggulan kedua adalah proses produksi GGP yang terintegrasi penuh dalam satu area, mulai dari penanaman sampai pengiriman ke produsen. “Kami fully integrated dari menanam sampai ke tangan produsen. Dari hulu ke hilir. Jadi buahnya bisa dikontrol kualitasnya hingga sampai ke rak supermarket,” paparnya. Keunggulan ketiga terletak pada pemanenan yang berkesinambungan sepanjang tahun. “No single day without pineapple,” kata Lucy bangga. Karena itulah GGP bisa memenuhi permintaan konsumennya secara konsisten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: