Pada Mulanya Memang Sederhana

Usaha warung nasi yang berkembang dari kaki lima ke waralaba. Dulu dikejar-kejar tramtib, kini ditawari kridit milyaran rupiah. Tak sesederhana namanya.

Ada seungkap pantun petuah Minang yang selalu memberi spirit oran gawak. Bunyinya, Karatau madang di hulu, berbuah berbunga belum. Merantau bujan gdahulu, di rumah berguna belum. Maka, pada usia 28 tahun, Bustaman pun meninggalkan kampungnya, Batusangkar, sekitar 100 kilometer di pedalaman kota Padang, Sumatera Barat. Ia merantau ke Jakarta.

Seperti lazimnya pemuda di Ranah Minang generasi 1960-an, merantau selalu membekali diri dengan keterampilan. Selain pandai membaca Al-Quran, menguasai ilmu silat dan pertukangan, juga mahir menjahit pakaian dan memasak. Tak aneh, kalau bukan jadi guru mengaji, tukang jahit, ya, buka warung nasi.
Bustaman, kelahiran tahun 1942, memang trampil memasak. Begitupun, sampai di Ibu Kota tahun 1971, ia mengawali peruntungannya dengan berjualan rokok di pinggir jalan di kawasan Matraman, Jakarta Pusat. Maklum, modalnya masih cekak untuk membuka warung nasi. Setahun kemudian, ia pindah ke kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Selatan. Di sinilah ia banting setir dan mulai menunjukan kebolehanya memasak.
Semua rokoknya di jual. Uangnya dibelikan gerobak. Sisanya, ditmabah pinjaman keluarga, genap Rp. 30.000. Uang itu digunakan untuk modal berjualan nasi di kaki lima. Warung gerobak itu, sesuai kondisinya, dinamai “sederhana”. Lantaran dikejar-kejar petugas Ketentraman dan Ketertiban (tramtib), ia pindah ke pejompongan, kawasan Slipi, Jakarta Barat. “Ya, saya terus kucing-kucingan dengan petugas tramtib dan preman pemalak,” Bustaman, 65 tahun, mengenang.
Tapi nasi jualan Bustaman yang enak di lidah dan pas di kantong kian laris dan dikenal. Tiap hari ia bias menjual 150 porsi. Harganya di kala itu Rp. 60 perporsi. Jadi, dia bias mengantongi sekitar Rp. 9.000 perhari. Dua Tahun berselang, ia memberanikan diri membeli dua kios sekaligus, masing-masing ukuran 3 x 4 meter, dengan mencicil Rp. 9.000 sebulan. Selama dua tahun kios itu lunas. Dan, nama Sederhana pun diangkat dari gerobak ke depan kios.
Begitu bergerak maju, berbagai cobaan, seperti kecurian dan kebakaran, dating silih berganti. Tapi Bustaman yakin janji Tuhan, dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Ternyata benar, dari sini, meski tetap bernama Sederhana, usaha rumah makannya beranak pianak dan berkembang pesat.
Hanya setahun berselang, ia menyewa kios seluas 6 x 15 meter di Roxy, Jakarta Barat, Rp. 200.000 per bulan. Jenis masakanpun kian bervariasi. Dari tadinya Cuma menjual rending, dendeng balado dan gulai, meningkat kea yam pop, kalio hati dan limpa, ikan baker, terus gulai kepala ikan kakap. Ia melengkapi hidangannya dengan roti cane dan sate, juga buah dan teh telur khas Minang.
Pelanggannya pun kian banyak. Tak mengherankan jika pada 1978 omsetnya sudah mencapai Rp. 300.000 – Rp. 400.000 sehari. Pintu rezeki kian terbuka ketika pemerintah mengucurkan kredit pengembangan usaha, tahun 1980. Bustaman mendapat pinjaman Rp. 3 juta untuk modal membuka beberapa cabang.
Usaha warung nasi sederhana ini menjadi tidak sederhana lagi setelah Bustaman ditawari kredit bank sebesar Rp 12 milyar dan mulai merangkul mitra. Ada dua pola kemitraannya. Pertama, pola kerjasama modal bersama dan keuntungan bersama. Pola kedua, Bustaman mengelola modal mitra, keuntungannya, 70% buat mitra dan 30% untuk pengelola. Dari 30 % keuntungan didapat, 50% untuk Bustaman dan sisanya untuk karyawan.
Rumah makan masakan Padang tentu saja bertabur di negeri ini. Toh, itu bukan masalah. Menurut Irwan M.S., Manajer Rumah Makan Sederhana, kehadiran competitor justru dijadikan motivasi untuk bekerja labih giat agar tak kalah bersaing. “Kompetitor membuat kita tidak terlena,” kata Irwan kepada Hertina D.P dari Gatra.
Omongan ini terbukti. Usaha Rumah Makan Sederhana terus berkembang. Di usianya yang ke – 35 tahun, pihak manajemen mendorongnya menjadi usaha waralaba. Ada 40 cabangnya yang tersebar di sejumlah kota besar di Indonesia. Selain di Jakarta, ada di Solo, Yogyakarta, Cilacap, Semarang, Balikpapan, Palembang, dan berbagai kota besar lainnya di Indonesia. Masing-masing dengan omzet Rp. 3 juta – Rp. 10 juta per hari.
Cabang-cabangnya diperkirakan akan terus bertambah. Bulan lalu, Bustaman meresmikan Rumah Makan Sederhana di Bengkulu. Yang masih jadi obsesinya adalah membuka Rumah Makan Sederhana di Malaysia, Singapura dan Filipina. Tapi ternyata tak mudah. “Kami sudah coba merambah ke Malaysia tahun kemarin, tapi prtizinannya susah,” kata sang juragan yang dipanggil Pak Haji itu seraya menyatakan tekadnya untuk mencoba lagi.
Sebagaimana lazimnya, tiap usaha yang sukses selalu “dijiplak” orang lain. Nama Rumah Makan Sederhana pun digunakan orang lain tanpa izin. Meski bias mengecoh, soal rasa masakan, lidah tak pernah bias ditipu. Maka, terhadap para “penjiplak”, Bustaman tak menganggap sederhana. “Kami akan memperkarakan mereka secara hukum,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: