Kristalisasi Keringat

Saya suka istilah yang sering diucapkan Tukul “wong ndeso” Arwana ini.

Ia kerap mengulangi kata-kata itu karena ia yakin bahwa sukses yang diraihnya saat ini memang hasil perasan keringat yang mengkristal.

Istilah ini membuat saya teringat waktu awal-awal membuka toko ritel di Pluit dan toko grosir di Tanah Abang, di tahun 2001-an.

Di awal menikah, kami memang langsung tancap gas. Buka 2 toko sekaligus, ritel dan grosir.

Toko grosir perlengkapan interior di Tanah Abang itu buka setiap hari dari jam 8 sampai jam 16 sore. Sepulang dari sana kami langsung meluncur ke Pluit untuk membuka toko ritel pakaian pria mulai jam 17 sampai jam 22 malam.

Begitulah kesibukan kami setiap hari. Tujuh hari sepekan. Tanpa libur, kecuali di hari raya.

Benar-benar kristalisasi keringat dalam arti sesungguhnya.

Bahkan, setiap pulang dari Tanah Abang, ibu saya sering berkomentar, “badannya kok bau keringat, sih?”

Memang bau keringat beneran.

Pasalnya, waktu itu kami tidak ada karyawan.

Mulai dari buka toko, memajang display, melayani pembeli, membungkus barang dagangan dan menutup toko semua dilakukan all by myself.

Yang paling sulit adalah ketika saya harus membungkus pesanan barang yang lumayan besar seperti karpet atau interior set. Keringat mengucur deras saat saya harus membungkus dengan kantong semen itu….

Kebetulan saat ini lagi musim hujan.

Saya jadi teringat memori waktu pulang dari Tanah Abang dalam keadaan hujan rintik-rintik.

Kami pulang naik mikrolet menuju Pluit dengan sekantong barang belanjaan yang akan dipajang di toko ritel kami.

Karena hujan, kantong semen itu pun koyak. Barang belanjaan menyembul dari sela-selanya. Sepanjang perjalanan yang macet, kantong itu terus saya pegangi, takut ada orang yang berniat tidak baik.

Turun di depan stasiun Beos, di mana kami harus berganti kendaraan, kantong semen itu tiba-tiba pecah ambrol. Barang dagangan itu pun jatuh berhamburan.

Panik dan kalap, saya segera memberesi barang yang berserakan dan basah bercampur lumpur jalanan itu untuk dimasukkan ke dalam bajaj yang sudah distop istri saya.

Di petang yang basah oleh rintik hujan itu, keringat hangat kembali menetes dari sekujur tubuh saya…

Kalau mengenang masa-masa itu, kami sering tertawa. Justru itu adalah masa-masa indah dalam perjalanan perkawinan kami.

Kami masih polos dalam berbisnis. Pokoknya “just do it”, itulah prinsip kami. Kerja keras, kerja keras dan kerja keras tak kenal waktu.

Belakangan saya sadar bahwa kerja keras saja ternyata tidak cukup. Perlu juga yang namanya kerja pintar (work smart).

Setelah kerja keras dibarengi kerja pintar, nah di situlah enaknya berbisnis mulai terasa.

Business is fuuuuun! Rasa “fun” itu baru terasa nikmat setelah adanya proses “kristalisasi keringat” itu. Iya dong, minum air putih terasa nikmat saat diminum ketika haus dan lelah.

Coba aja…

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: