Jadi Pengusaha, Jangan Banyak Mikir

Bayangkanlah sesuatu yang menyenangkan seperti keuntungan di satu sisi, namun di sisi lain ciptakan pula suasana kepepet. Suasana seperti itu akan membangun motovasi kerja agar selalu berusaha.

Hal itu dibuktikan Nanang Fauzi, pengusaha kelahiran tahun 1975 yang mengelola Bakso Kota, Donat Boyz, Apotek Dahlia II, III, Apotek Seruni, dan sejumlah usaha lain, Bagaimana bisa?

Ketika duduk di bangku SMA, Nanang Fauzi tergolong aktif di Sispala. Ia menyukai petualangan dan memperhatikan suasana di lingkungannya. Itulah sebabnya, beberapa daerah disinggahinya seperti Malang, Bandung dan DI Yogya.
Ketika berada di Yogya, Nanang mengambil
mata kuliah fotografi. Namun, karena kesuntukannya mengamati peristiwa di lapangan, ia banyak berada di jalan. Itulah sebabnya, kata Nanang, pilihan kala itu adalah makan atau tidak makan. Nanang banyak melihat kehidupan kecil. Nah, justru sikap mental seperti itulah yang menurut Nanang dibutuhkan di dunia bisnis.
“Tidak diperlukan pemahaman tentang matematika. Itu sama sekali tak terpakai,”paparnya.”Justru bisnis sama dengan intuisi, yakni feeling. Ternyata intuisi itu adalah berpikir yang sangat cepat. Berpikir seperti orang yang tidak berpikir.”
Ada naluri pribadi yang menggelisahkan tatkala melihat fakta-fakta di lapangan – bahwa dengan begitu cepat ia mengatasi keadaan.”Ada manajemen of kepepet,” cetus Nanang. Bekal itu memang sudah nampak ketika masih kecil. Ia mengaku tergolong anak bandel. Pada masa SMA misalnya, selalu berpindah-pindah. Lama ia baru mengetahui bahwa itu merupakan sikap “memberontak”, mengapa?
“Duduk manis dan berseragam, itu yang kurang menyenangkan bagi saya. Justru ada naluri energik yang nempaknya tidak tersalurkan,”katanya.
Ketika feeling sudah terasah dengan baik, maka secara otomatis setiap kali mengalami peristiwa tertentu akan begitu saja berjalan. Misalnya kalau melihat bangunan tertentu di suatu lokaasi, intuisi bisnis bergerak sangat cepat.”Saya terbiasa seperti itu dan tidak punya teori apa-apa,” ujar Nanang.

Tak Banyak Mikir
Pebisnis senantiasa ingin punya komunitas yang sama untuk berbagi. Itulah sebabnya, setiap minggu Nanang selalu berdialog dan berdiskusi. Ternyata, dari pengalamannya di lapangan, ada asumsi bahwa bisnis itu tidak perlu mikir.”Bisnis itu seperti orang yang berada di kamar mandi dan pasti sukses. Kalau airnya belum ada tunggu airnya mengucur. Jarang mandi tidak sukses,”paparnya mengandaikan.
Selama ini oran gberpikir terbentur modal. Apakah hal tersebut alasan tepat? Bagi Nanang, itu alasan klasik. Pertanyaannya, apakah di tiap negara pebisnis mengalami persoalan yang sama?Ternyata, pernyataan itu lebih cenderung karena kultur semata mengingat bisa jadi alasan modal merupakan warisan generasi sebelumnya.
Hal yang utama dan terberat dalam memulai bisnis adalah pola pikir. Sedangkan sesuatu yang terpenting adalah,”Tidak boleh berpikir negatif. Rugi atau bagus harus tetap berpikir positif.”Karena, tantangan ketika memulai usaha adalah ketika jatuh kehilangan banyak hal. Itu mesti dimaknai sebagai sebuah perjuangan. “Sering ada car berpikir yang negatif thinking. Padahal, kalau berpikir positif, misalnya ya bangkrut, ya sudahlah. Enteng-enteng sajalah. Anggap kalau bangkrut karena kurang beramal. Kemudian bangun lagi mimpi. Harus pertahankan mimpi-mimpi. Bisnis tidak ada yang berat,”urai Nanang.

Banyak di Jalan
Nanang, ketika kuliah di Jogja sebelum tahun 1988, lebih banyak menghabiskan waktu di jalan. Ia hobi membuat sesuatu. Kebetulan, sekolahnya di dekat pasar Bringharjo. Disana sering memberi onderdil yang dirakit. Kala itu bertemu orang-orang yang membuat kerajinan kulit. Ikutlah Nanang terjun kesana. Barang-barang bekas dibeli dengan harga murah dan dijadikan lampu atau kap meja. Itu semua dipelajari secara otodidal. Sedangkan akses pasar cukup besar.
Kala itu ada MoU dengan IMF bahwa kulit mentah boleh diekspor. Aturan tersebut membuat perajin lokal rada kebelinger karena tidak kebagian kulit di negaranya sendiri. Bagaimana perajin lokal bersikap? Nanang mengibaratkan seorang pebisnis itu mesti bersikap seperti maling, yan gmanakala kepepet selalu berusaha mengatasi masalah dengan segera. Nah, keadaan yang kepepet memunculkan inisiatif dan siasat agar tetap eksis.
Nanang memang memulai bisnis dari usaha kecil seperti jerajinan tangan, membuat keranjang sampah, box koran, dan lain-lain. Suatu kali. ia membaca sebuah buku terbitan Jepang yang berisi upaya mengolah kertas koran menjadi barang kerajinan. Nampaknya, usaha tersebut menarik perhatiannya. Caranya, kertas koran diplintir dan disambung menjadi tali. Setelah dianyam, menghasilkan benda kerajinan yang bagus. Ternyata hasil olah karya itu di Jogja tidak direspon. Hebatnya, ketika dipamerkan di luar negeri banyak konsumen yang tertarik.
Nanang pun memulai produksi yang dimodali pihak lain dalam wadah kelompok “Ilalang”, kemudian mengikuti sejumlah pameran kerajinan atas nama pemodal.
Kelompok perajin ini beranggotakan 60 orang, diantaranya terdiri dari ibu-ibu rumah tangga yang berkerja menganyam bahan menjadi benda kerajinan di rumahnya. Nah, modal yang diperlukan Nanang hanya Rp. 300 – Rp. 400 ribu,” Itu pertama bahan yang dibeli untuk eksperimen awal,” cetusnya. Sampai sekarang di Desa Kayeng ada kampung khusus yang banyak perajin yang tergolong jenis kerajinan tersebut diinisiatori Nanang. Karena beberapa hal. kampung itu ditinggal karena Nanang harus pulang kampung.
Di Lomboj Nanang memulai usaha baru dengan memanfaatkan tulang dan batok kelapa yang banyak jumlahnya di Lombok. Setelah usaha itu digeluti, ternyata pihaknya terbentur persoalan marketing. “Di Lombok agak susah karena beberapa persoalan. Itu terjadi tahun 2002,” katanya.Karena mengalami kegagalan, pada tahun 2003 Nanang mulai frustasi. Disela-sela kegagalan itu, ia kembali ke orang tuanya. Secara kebetulan sang ibu merupakan pemilik Apotek Dahlia.
Kendati orang tuanya merupakan orang berada, Nanang enggan bergantung. Ketika bicara profesionalisme, tetap ada ketentuan-ketentuan yang berlaku. Kalau ada hutang tetap di lunasi, terlebih jika sudah berkeluarga. Namun bersama orang tua membuat Nanang trus belajar. Kemanapun sang Ibu pergi tetap diikuti. Selama tiga sampai empat bulan bekerja pada usaha orang tuanya, Nanang mengaku masih bimbang. Setelah itu, demi melihat Apotek Dahlia yang selalu ramai, ia melihat ada peluang untuk membuka cabang di tempat yang lebih luas.
Kenapa harus membuka cabang? Dari segi image, Apotek Dahlia lumayan bagus dengan citra obat murah dan lengkap. Nanang kemudian mencari posisi yang tidak jauh dari apotek. Langkah awal yang dilakukan adalah lokasi, kemudian meminjam obat.”Modal awal sekitar Rp 10 juta yang dibutuhkan untuk mengurus izin apotek, etalase, beli permadani, kulkas sampau jadi makelar tanah,” katanya. Sewa tempat dilakukan dengan perjanjian dibayar di belakang. Nanang minta waktu kepada pemilik tanah agar diberikan kesempatan berusaha.”Itu yang saya bilang memulai bisnis tanpa modal,”katanya.
Tidak perlu waktu lama, hanya sekitar dua mingguatau 1 bulan, sudah banyak konsumen yang mengarah ke Dahlia II. Namun oleh orang tuanya obat dibatasi maksimal senilai Rp 20 juta. Lewat berbagai upaya, hanya dalam waktu setahun dana yang berputar telah mencapai Rp 200 juta. Artinya, kondisi kepepet bisa menjadi salah satu modal mengoptimalkan kemampuan diri. “Hal itu harus terus dibiasakan. Sedangkan kalau mengalami suskses berbahaya. Itu sebabnya saya menciptakan kondisi kepepet,”tutur Nanang.
Pada prinsipnya semua bisa diatur. Namun demikian membiasakan diri berpikir positif sehingga peluang terbuka lebar. Ketika suatu hari tidak punya uang, maka lobi pun bisa dilakukan. Pengertian dipercaya oleh pihak lain bukan tepat waktu, melainkan dalam hal-hal lain menyangkut keyakinan orang terhadap diri kita.
Pengalaman lain yang cukup berarti bagi Nanang adalah manakala tertarik membuka usaha baru. Kala itu, sebuah majalah menulis sebuah usaha di Solo, yakni Dunat Boys. Karena instink, Nanang pun mengontak untuk memenuhi syarat yang ditentukan. Kala itu, dana yang dibutuhkan adalah Rp. 135 juta untuk paket izin, royalti, isi dapur dan lain-lain. Secepat kilat Nanang minta nomor rekening, lalu mentransfer uang muka sebesar Rp. 10 juta. Belum melakukan sebuah kunjungan resmi namun sudah melakukan transfer memberi kejutan kepada pemilik lisensi Dunat Boys. Mereka pun bertanya, “Secepat itu percaya?”Jawab Nanang.
“Saya percaya!”
Anehnya, justru karena keberanian itu harga yang semula Rp 135 juta diturunkan menjadi Rp 98 juta tanpa pernah menawar sebelumnya.”Ini memang kasus yang lucu,”kata Nanang.
Langkah lain yang cukup spektakuler dan membangun gairah perekonomian di kota Mataram khususnya adalah dengan dibukanya Bakso Kota yang berada di perempatan jalan. Tanah di perempatan Pagesangan-Mataram yang terletak antara jalan Majapahit dan Airlangga itu dulu terbengkalai. Naluri bisnis Nanang melihat lokasi yang nampak dari segala penjuru pun berpedar. Apalagi dalam sehari sangat banyak kendaraan yang lewat. Itu merupakan barometer. Belum saja pertokoan itu jadi, Nanang sudah membayar uang muka.”Bisnis tak perlu banyak mikir, tetapi pakai feeling,”katanya.
Toh bukan berarti Nanang tidak pernah gagal dalam feeling.”Cuma ketika sesuatu keputusan bisa diambil kita sudah menang satu langkah,”tuturnya.

Comments
2 Responses to “Jadi Pengusaha, Jangan Banyak Mikir”
  1. hadi mengatakan:

    bgus juga dkit. tp mang smw org bsa mlkukannya?

  2. abdul fatah mengatakan:

    saya tertarik apa yang sudah saudara lakukan bahwa bisnis tidak perlu banyak berpikir namun disini kita perlu juga berpikir masalah peluang yang kadang kadang perlu survai atau kajian bisnis.Makasih mudah mudah dapat memotivasi saya selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: